Jalan-jalan ke Manado
Akhir September kemarin aku pergi ke Manado. Sebenarnya aku ke sana untuk tujuan dinas, konsultasi penelitian ke Balai Penelitian Kelapa. Tapi acara utamanya tetap jalan-jalan...
Ini pertama kalinya aku ke Manado. Walaupun aku lahir di Sulawesi Selatan, tapi aku belum pernah mengunjungi propinsi lainnya di Sulawesi sebelumnya. Di Manado, aku mengunjungi beberapa tempat wisata, seperti danau Tondano, kota bunga Tomohon, Kuburan alam Waruga di Air Madidi, dan Bukit Kasih. Sayangnya aku tidak sempat mengunjungi Bunaken, taman laut yang terkenal itu karena ternyata biaya ke pulau itu sangat mahal menurutku. Tapi aku menyempatkan untuk makan tinutuan atau bubur manado. Di Manado ada suatu kawasan yaitu kawasan Wakeke. Di sepanjang jalan di kawasan ini, banyak rumah makan yang menjual tinutuan.
Bukit Kasih, adalah salah satu objek wisata baru di Manado. Dibangun pada tahun 2000 dan disempurnakan lagi pada tahun 2002. Daerah ini dipercaya merupakan tempat tinggal awal nenek moyang orang Minahasa, Lumimuut dan Toar. Lumimuut adalah ibu dari semua manusia di Minahasa. Toar adalah anak dari Lumimuut, tapi kemudian menikah dengan Lumimuut dan melahirkan 9 orang anak yang menjadi cikal bakal 9 etnis di Minahasa (Babontehu, Bantik, Pasan Ratahan, Ponosakan, Tonsea, Tontemboan, Tondano, Tonsawang, dan Tombulu). Pada saat kepercayaan animisme Alipuru masih dianut oleh masyarakat Minahasa, tempat ini sering dikunjungi orang karena dikeramatkan. Pemerintah kemudian menjadikan tempat ini sebagai simbol perdamaian. Di atas bukit ini dibangun lima buah tempat ibadah dari lima agama besar di Indonesia. Konon, jika meminta sesuatu di tempat ibadah itu, maka keinginannya akan terkabul. Itu kata pemandu wisata yang menjelaskan kisah diatas pada aku. Dia juga menyarankan aku untuk melakukan hal tersebut. Tapi aku tidak mau melakukannya, karena menurutku doa kita tidak dikabulkan berdasarkan tempatnya, tapi dari hati yang bersih.
Aku juga mengunjugi kompleks pemakaman tertua di Minahasa yaitu Waruga di Sawangan-Air Madidi. Makam-makam tua ini terbuat dari batu menyerupai rumah lengkap dengan atapnya. Cara menguburkan jenazahnya juga unik, yaitu diposisikan seperti pada waktu masih dalam janin. Dalam satu waruga, bisa dikuburkan beberapa jenazah yang masih dalam satu keluarga. Syaratnya jenazah di dalam kuburan harus hancur terlebih dahulu sebelum dimasukkan jenazah yang baru. Awalnya waruga ditempatkan di depan rumah keluarga. Sekitar tahun 1860 mulai ada larangan dari Pemerintah Belanda menguburkan orang meninggal dalam waruga, karena waktu itu mulai berjangkit berbagai penyakit, di antaranya penyakit tipus dan kolera. Dikhawatirkan, si meninggal menularkan bibit penyakit tipus dan kolera melalui celah yang terdapat di antara badan waruga dan cungkup waruga. Waruga yang memiliki ukiran dan relief umumnya terdapat di Tonsea. Ukiran dan relief tersebut menggambarkan berapa jasad yang tersimpan di waruga yang bersangkutan sekaligus menggambarkan mata pencaharian orang tersebut.
Karena belum ke Bunaken, aku berniat suatu saat aku harus kembali ke tempat ini dan mengunjungi Bunaken. Mungkin ada cerita baru yang bisa aku dapatkan saat itu.







Recent Comments