« August 2007 | Main | October 2007 »

September 30, 2007

Jalan-jalan ke Manado

Akhir September kemarin aku pergi ke Manado. Sebenarnya aku ke sana untuk tujuan dinas, konsultasi penelitian ke Balai Penelitian Kelapa. Tapi acara utamanya tetap jalan-jalan...

Ini pertama kalinya aku ke Manado. Walaupun aku lahir di Sulawesi Selatan, tapi aku belum pernah mengunjungi propinsi lainnya di Sulawesi sebelumnya. Di Manado, aku mengunjungi beberapa tempat wisata, seperti danau Tondano, kota bunga Tomohon, Kuburan alam Waruga di Air Madidi, dan Bukit Kasih. Sayangnya aku tidak sempat mengunjungi Bunaken, taman laut yang terkenal itu karena ternyata biaya ke pulau itu sangat mahal menurutku. Tapi aku menyempatkan untuk makan tinutuan atau bubur manado. Di Manado ada suatu kawasan yaitu kawasan Wakeke. Di sepanjang jalan di kawasan ini, banyak rumah makan yang menjual tinutuan.

Patung_lumimuut

Bukit Kasih, adalah salah satu objek wisata baru di Manado. Dibangun pada tahun 2000 dan disempurnakan lagi pada tahun 2002. Daerah ini dipercaya merupakan tempat tinggal awal nenek moyang orang Minahasa, Lumimuut dan Toar. Lumimuut adalah ibu dari semua manusia di Minahasa. Toar adalah anak dari Lumimuut, tapi kemudian menikah dengan Lumimuut dan melahirkan 9 orang anak yang menjadi cikal bakal 9 etnis di Minahasa (Babontehu, Bantik, Pasan Ratahan, Ponosakan, Tonsea, Tontemboan, Tondano, Tonsawang, dan Tombulu). Pada saat kepercayaan animisme Alipuru masih dianut oleh masyarakat Minahasa, tempat ini sering dikunjungi orang karena dikeramatkan. Pemerintah kemudian menjadikan tempat ini sebagai simbol perdamaian. Di atas bukit ini dibangun lima buah tempat ibadah dari lima agama besar di Indonesia. Konon, jika meminta sesuatu di tempat ibadah itu, maka keinginannya akan terkabul. Itu kata pemandu wisata yang menjelaskan kisah diatas pada aku. Dia juga menyarankan aku untuk melakukan hal tersebut. Tapi aku tidak mau melakukannya, karena menurutku doa kita tidak dikabulkan berdasarkan tempatnya, tapi dari hati yang bersih.

Waruga

Aku juga mengunjugi kompleks pemakaman tertua di Minahasa yaitu Waruga di Sawangan-Air Madidi. Makam-makam tua ini terbuat dari batu menyerupai rumah lengkap dengan atapnya. Cara menguburkan jenazahnya juga unik, yaitu diposisikan seperti pada waktu masih dalam janin. Dalam satu waruga, bisa dikuburkan beberapa jenazah yang masih dalam satu keluarga. Syaratnya jenazah di dalam kuburan harus hancur terlebih dahulu sebelum dimasukkan jenazah yang baru. Awalnya waruga ditempatkan di depan rumah keluarga. Sekitar tahun 1860 mulai ada larangan dari Pemerintah Belanda menguburkan orang meninggal dalam waruga, karena waktu itu mulai berjangkit berbagai penyakit, di antaranya penyakit tipus dan kolera. Dikhawatirkan, si meninggal menularkan bibit penyakit tipus dan kolera melalui celah yang terdapat di antara badan waruga dan cungkup waruga. Waruga yang memiliki ukiran dan relief umumnya terdapat di Tonsea. Ukiran dan relief tersebut menggambarkan berapa jasad yang tersimpan di waruga yang bersangkutan sekaligus menggambarkan mata pencaharian orang tersebut.

Karena belum ke Bunaken, aku berniat suatu saat aku harus kembali ke tempat ini dan mengunjungi Bunaken. Mungkin ada cerita baru yang bisa aku dapatkan saat itu.

                            

September 18, 2007

kapan kapan

Kapan : kata tanya yang digunakan untuk mengetahui keterangan waktu.

Weekend kemarin aku mendatangi acara pernikahan sepupu bang Jojo. Di sepanjang acara yang (sangat) lama itu, berulang kali kami mendapatkan pertanyaan yang sama (dan sejenis) “kapan nikahnya?”. Kami hanya tersenyum, dan menjawab “sedang dipikirkan”. Terkadang kami bercanda dengan mengatakan joke ala Ringgo “may...maybe yes maybe no”.

Sewaktu aku menceritakan kejadian itu ke rekan kerjaku, dia hanya tertawa dan berkata demikian :
Hehe..itu pertanyaan abadi, Des. Waktu masih kuliah ditanyain,kapan lulusnya? Udah lulus ditanyain, kapan kerjanya? Udah kerja ditanyain, kapan pacarannya? Udah pacaran ditanyain, kapan nikahnya? Udah nikah ditanyain, kapan ngisinya (hamil)? Udah punya anak ditanyain, kapan nambah adeknya? Udah gede anaknya, ditanyain kapan ngunduh mantunya? Udah punya menantu ditanyain, kapan punya cucu? Jangan-jangan ditanyain juga, kapan matinya? Hehe..

Iya juga ya... Pertanyaan seperti itu selalu ada dan nggak akan berhenti. Kalau dalam daftarku nambah satu lagi.."kapan sekolah lagi?". Yang bertanya mungkin hanya sekedar berbasa-basi, tapi yang ditanya bisa tersenyum kecut memikirkan jawabannya. Pertanyaan yang bisa membuat jengah jika yang menanyakan lebih dari satu orang.

Mendekati akhir acara pernikahan itu (dan berhubung aku sudah boring banget dengan acaranya), aku memikirkkan jawaban jika pertanyaan kapan itu muncul lagi. Aku akan menjawab “kapan-kapan deh..”

September 05, 2007

Just proud to be yourself

Seberapa sering kita berbangga atas diri kita sendiri? Seberapa banyak kita menggunakan kalimat “gue gitu lho...” (sambil menepuk dada) atau sejenisnya untuk menyatakan kemampuan kita? Terkadang, bahkan seringkali, kita bahkan membentuk image diri kita berdasarkan penilaian orang lain. Kita menilai diri kita berdasarkan apa yang dikatakan orang tentang kita, baik maupun buruk, menyanjung maupun merendahkan.

Suatu malam, aku dan seorang kawan lama di bangku SMA chatting lewat sms. Setelah sekian lama tidak bertemu rasanya menyenangkan bisa ngobrol lagi walaupun dalam waktu yang singkat dan cara yang berbeda. Dia bilang dirinya belum punya pacar setelah lama menjomblo. Trus dia bertanya “ do you have any advice for your handsome guys?”. Aku menjawab “ kalo kamu menganggap dirimu handsome, kamu ga butuh advice dari aku. Just proud to be yourself. Ga usah cari yang jauh, yang dekat saja. Kalau sudah cocok, jadiin aja”.

Di malam yang sama, seorang teman dekat juga bercerita bahwa dia merasa dirinya kurang inisiatif dan gampang menyerah setelah dinasehati oleh seniornya. Padahal menurut penilaianku dia bukan orang yang seperti itu. Aku juga mengatakan hal yang sama kepadanya “Just proud to be yourself. Cobalah sesekali membanggakan dirimu, tunjukkan apa yang sudah kamu lakukan kepada mereka”.

Berbangga atas diri kita sendiri bukan hal yang tabu, malah perlu dilakukan sebagai bentuk apresiasi bagi diri kita. Menghargai diri sendiri adalah hal yang perlu dilakukan sebelum menghargai orang lain. Karena hanya kita yang paling mengenal diri kita sendiri. Mustahil kita bisa memperlakukan orang dengan baik, jika kita sendiri tidak memperlakukan diri kita dengan baik. Kalaupun bisa mungkin dia termasuk seorang penjilat. Tapi tetap ada batas yang tipis sebelum kebanggan diri itu berubah menjadi kesombongan. Perhatikanlah batas itu.

Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda” (I Tim 4:12). Muda bukan hanya dari segi usia, tapi juga kemampuan, kecakapan, pengalaman, penampilan, apapun itu. Muda bisa berarti lebih sedikit, lebih rendah, atau lebih kecil. Setiap orang berhak untuk menunjukkan dirinya di depan orang lain. Dan jangan biarkan pendapat orang lain menjadi pola pembentukan diri. Pendapat orang lain hanya boleh menjadi sekedar masukan, saran atau kritik, tapi harus yang bersifat membangun yang kita masukkan dalam pola pembentukan diri yang kita bentuk sendiri. Yang jelek, buang saja...untuk apa dipikirkan.

Ada suatu ilustrasi dimana seorang pemimpin berbuat salah di hadapan anak buahnya. Kesalahan itu sangat fatal sehingga berpengaruh besar bagi kelangsungan perusahaannya. Anak buahnya satu persatu mulai menyalahkan dia dan kepemimpinannya. Pemimpin yang berjiwa besar itu berkata di hadapan anak buahnya sambil membusungkan dada “ Okey, saya sudah salah. Mari kita bersama-sama bangkit dari kesalahan ini dan maju ke depan”. Pemimpin itu tidak sedikitpun membiarkan pandangan anak buahnya menjadi batu sandungan untuk masa depannya. Itulah salah satu ciri pemimpin yang bisa dipercaya.

Just proud to be yourself.

My Photo
Powered by Friendster Blogs

August 2008

Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
          1 2
3 4 5 6 7 8 9
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30
31            

rame-rame

  • go green indonesia!
  • Cara Membuat Blog
  • Page copy protected against web site content infringement by Copyscape